Pilih-pilih Sekolah Internasional

Belum Tentu Berafiliasi Dengan Sekolah di Luar Negeri

22 Juli 2008 | Metro

 

Koran Tempo. Sebulan sebelum dimulainya tahun ajaran baru, Rizal Panggabean menerima surat dari John Calvin International School (JCIS) yang berada di Korea Town Kayu Putih, Pulomas, Jakarta Timur. Tempat sekolah lima anaknya yang baru setahun dibuka itu ditutup karena bangkrut. Padahal, “Saya sudah habis ratusan juta rupiah,” kata dia. Ia bersama orang tua murid lain lalu melaporkan kasus ini ke Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya berbekal pasal penipuan.

 

Peristiwa ini menyadarkan para orang tua bahwa sekolah berlabel internasional yang berbiaya mahal tak menjamin berkualitas. Sebelum mendaftar, sebaiknya ditelusuri dulu legalitas sekolah itu.

 

Andre Legoh, perwakilan pemegang saham JCIS, mengklaim sudah mengantongi izin. Menurut dia, mereka pernah berhubungan dengan Suku Dinas Pendidikan Dasar Jakarta Timur. Namun, hal ini dibantah Rizal yang pernah menelusuri perizinan sekolah itu ke Dinas Pendidikan Dasar dan Dinas Pendidikan Menengah Tinggi. Katanya, “JCIS belum berizin.”

 

Lantaran itu orang tua menolak memindahkan anaknya ke Saint Pieter’s di Kelapa Gading. “Pemilik JCIS dan Saint Pieter’s, ya, itu-itu juga,” kata Supandi, orang tua dari dua siswa JCIS. Menurut Andre, sebagian besar dana sekolah sudah digunakan untuk memindahkan siswa ke Saint Pieter’s.

 

Kepala sekolahnya, John Montong, mengatakan tak mengetahui rencana pengalihan siswa JCIS. Ia menolak dikatakan sekolahnya berkaitan dengan JCIS. “Tidak ada hubungan kelembagaan,” katanya kepada Tempo.

 

Menurut John, sudah setahun ini Saint Pieter’s menyelenggarakan sekolah berstandar internasional bagi jenjang pendidikan tingkat atas. Melalui model itu, Saint Pieter’s menggabungkan kurikulum standar nasional dengan kurikulum yang diakui di Inggris.

 

John mengaku telah mengantongi izin dari Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP). “Kami sudah terakreditasi,” katanya. Namun, Kepala BSNP Djemari Mardapi mengatakan lembaganya tak pernah mengeluarkan izin. “Kami hanya membuat standar pendidikan,” kata dia.

 

Sebagian siswa JCIS juga dipindahkan ke Sevilla School di kawasan Pacuan Kuda, Pulomas, Jakarta Timur, yang berlabel internasional. Kepala Sekolah Sevilla Alfonso Hariono mengklaim menerapkan sistem pendidikan dari Cambridge University, Inggris. “Dari Dinas Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Tinggi kami ada izinnya,” ujar Alfonso. Tapi daftar sekolah internasional yang dikeluarkan Departemen Pendidikan, tidak ada nama Sevilla School.

 

Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas Sungkowo Mudjiamanu meminta masyarakat berhati-hati memilih sekolah yang mengklaim berstatus internasional. “Belum tentu berafiliasi dengan sekolah di luar negeri,” ujar dia. Dari data yang diperoleh Tempo, ada 259 sekolah yang merintis kurikulum standar internasional. Jika memilih sekolah sembarangan, kata dia, sertifikat kelulusannya tidak diakui. ISTI| AKBAR TRI KURNIAWAN| RIKY FERDIANTO| EKA PUTRI

 

Daftar Sekolah Internasional yang Sudah Terakreditasi

·      SMA British International School, Tangerang

·      SMA Deutsche International School, Tangerang

·      SMA Kharisma Bangsa Bilingual Boarsding School, Tangerang

·      SMA Mahatma Gandhi, Pasar Baru Selatan, Jakarta Pusat

·      SMA Mahatma Gandhi School, Kemayoran, Jakarta Pusat

·      SMA Pakistan Embassy School, Jakarta Pusat

·      SMA Jakarta International School, Jakarta Selatan

·      SMA Singapore International School, Jakarta Selatan

·      SMA Australian International School, Jakarta Selatan

·      SMA De Nederlandse Internationale School, Jakarta Selatan

·      SMA Ecole Internationale Francaise School, Jakarta Selatan

·      SMA New Zealand International School, Jakarta Selatan

·      SMA Jakarta International Korean School, Jakarta Timur

·      SMA Mahatma Gandhi National School, Ancol Barat, Jakarta Utara

·      SMA Taiwan Jakarta, Jakarta Utara

 

Sumber: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas