Depdiknas Belum Uji Kelayakan John Calvin

18/07/2008 13:16 Pendidikan

Untuk lihat versi tayang, klik http://www.liputan6.com/news/?id=162480&c_id=3

 

Liputan6.com, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional mengakui belum menguji kelayakan sekolah internasional John Calvin. “Saya kira [John] Calvin itu membubarkan diri. Bagaimana menutup, tidak pernah punya izin kok ditutup,” kata Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Suyanto, baru-baru ini.

 

Sekolah yang beralamat di Jalan Kayu Putih Raya, Jakarta Timur, ini sudah setahun beroperasi. Namun ternyata mutu sekolah masih dipertanyakan. Akibat masalah internal akhir bulan lalu, John Calvin harus berhenti beroperasi. “Mereka menunggak sewa gedung sampai 2008 senilai Rp 10,8 miliar,” kata pemilik gedung, Nesti Maharani.

 

Sementara itu orangtua 108 siswa John Calvin sedang menempuh jalur hukum. Mereka berharap sekolah mengembalikan kerugian material. Sebagai gambaran, untuk masuk Sekolah Menengah Atas John Calvin, orangtua harus membayar sekitar Rp 39 juta.

 

Di sisi lain, sekolah internasional ini banyak diburu. Selain di Jakarta, sekolah berstandar dunia ini mulai bermunculan di berbagai daerah. Layaknya sekolah internasional umumnya, sekolah tersebut juga menyajikan materi pendidikan berorientasi internasional serta mempersiapkan siswanya menjadi warga dunia.

 

Sekolah-sekolah unggulan semacam ini biasanya mengadopsi kurikulum internasional dan bekerja sama dengan institusi pendidikan luar negeri yang terakreditasi dan bereputasi internasional. Meski berjuluk sekolah internasional, sekolah-sekolah itu tetap harus mengantongi izin dari Depdiknas.

 

Semua kelebihan yang ditawarkan sekolah berstandar internasional memang dapat membantu proses belajar siswa dengan lebih baik. Namun hasil akhir proses pendidikan tetap terpulang pada masing-masing siswa dalam menyerap mengembangkan pelajaran yang didapat di sekolah. (YNI/Tim Liputan 6 SCTV)