http://www.wartakota.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=6020&Itemid=73

 

Monday, 14 July 2008

Orangtua Ngadu ke Polda

 

Semanggi, Warta Kota

Setelah sekolah John Calvin International School (JCIS) di Pulomas, Jakarta Timur, tak lagi beroperasi, kini giliran SD Perwara di Kemayoran, Jakarta Pusat, yang juga ditutup. Penutupan ini dilakukan karena jumlah murid di sekolah itu terus berkurang. Karena kecewa dengan penutupan yang dilakukan secara sepihak oleh pengelola SD Perwara, sejumlah orangtua murid, Senin (14/7) mendatangi Mapolda Metro Jaya. Mereka ingin mengadukan pengurus Yayasan Perwara ke polisi karena menutup sekolah secara sepihak.

 

Upaya orangtua untuk melaporkan pengurus yayasan ke polda ditolak dengan alasan dokumen yang dibawa belum lengkap. ”Kata polisi, dokumennya masih kurang. Harus kita lengkapi dulu. Besok kita ke sini lagi,” ujar Indra Yakub, perwakilan orangtua murid, saat ditemui di Mapolda Metro Jaya.

 

Para orangtua itu didampingi anak-anak mereka mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya sekitar pukul 11.30. Mereka mengadukan pengelola SD Perwara, yaitu Yayasan Pendidikan Perwara, dengan tuduhan lalai mengelola sekolah yang berakibat berkurangnya jumlah murid.

Sekolah yang beralamat di Kavling Blok B, Kotabaru Bandar Kemayoran, itu mulai tutup kemarin. Para orangtua baru mengetahuinya dari anak mereka yang seharusnya mulai masuk pada awal tahun ajaran 2008/ 2009.

 

”Ketika mereka datang ke sekolah, pagarnya digembok. Ketika kami minta konfirmasi, ternyata sekolahnya tutup,” ujar Indra, orangtua dari Dimas, murid kelas V SD Perwara.

 

Rencana penutupan sekolah ini sempat tercetus pada pertemuan orangtua murid pada 27 Juni 2008. Saat itu, orangtua dipertemukan dengan pihak yayasan, pengelola Bandar Baru Kemayoran, dan Angkasa Pura I selaku pelindung Yayasan Perwara.

 

Dalam pertemuan itu terungkap kondisi sekolah yang secara fisik rusak. Selain itu, karena peminat berkurang, pihak yayasan, kata Indra, tak sanggup meneruskan pengelolaannya. Murid SD Perwara berjumlah 30 orang, terdiri atas lima murid kelas VI, 12 murid kelas V, delapan murid kelas IV, murid kelas III tidak ada, lima murid kelas II, dan kelas I tidak ada murid.

 

Sementara itu, Wakil Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI Saefullah mengatakan, penutupan sekolah harus melalui sejumlah prosedur, antara lain melakukan sosialisasi. Selain itu, harus ada solusi bagi peserta didik yang masih belajar di sekolah tersebut. ”Tidak bisa main tutup saja,” katanya.

 

Selain itu, sekolah juga harus menyerahkan buku induk dan administrasi sekolah ke kepala seksi pendidikan di kecamatan yang kemudian diteruskan ke suku dinas (sudin) pendidikan dasar di wilayah. Dengan demikian, siswa yang sudah lulus bisa mengurus dokumen dari sekolahnya di kecamatan atau kantor sudin di wilayah, misalnya melegalisasi ijazah.

 

”Sampai saat belum ada laporan dari Sudin Dikdas Jakpus tentang penutupan SD Perwara,” katanya.

 

Dalam sepekan ini, kasus penutupan sekolah terjadi dua kali. Sebelumnya, orangtua murid JCIS melapor ke polda karena sekolahnya ditutup. Sekolah yang didirikan antara lain oleh mantan Mendiknas Wardiman Djojonegoro itu juga tak memiliki izin (Warta Kota, 12/7). (wid/tan) Last Updated (Monday, 14 July 2008).