Siswa JCIS Gelar Aksi Teatrikal

http://www.beritajakarta.com

11-07-2008

 

Sejak tutup awal Juni lalu, pengelola John Calvin International School (JICS) telah memindahkan 108 muridnya ke St Peter’s International School, Boulevard Timur, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Beberapa orangtua murid menerima, namun sebagian besar tidak setuju pemindahan tersebut. Kekecewaan terus berlangsung hingga saat ini.

 

Untuk mengekpresikan kekecewaan itu, sekitar 16 murid eks JCIS, Kayuputih, Pulogadung, Jakarta Timur, menggelar aksi teatrikal, Jumat (11/7). Aksi yang digelar di pelataran parkir JCIS itu berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 11.00.

 

Belasan murid yang mengenakan seragam JCIS itu nampak duduk-duduk di kursi warna merah, yang diletakan di pelataran parkir. Di bawah sengatan matahari pagi, mereka sempat menyibukkan diri masing-masing. Ada yang membuka laptop, membaca buku, meminum air mineral hingga ada yang hanya menghisap-hisap jari jempol tangannya sendiri.

 

Semua aksi mereka dilakukan layaknya seorang bocah yang sedang bermain di halaman rumahnya sendiri. Tanpa ada bimbingan guru, mereka pun sesekali mencoba menghibur diri dengan menyanyikan lagu-lagu kesukaannya masing-masing.

 

Ivon, salah satu murid JCIS mengatakan, aksi ini sebagai bentuk kekecewaan murid terhadap pengelola JCIS yang membubarkan sekolah secara sepihak. Ia bersama teman-temannya telah merasa dibohongi oleh pihak JCIS. Karena itu, ia meminta aparat penegak hukum maupun instansi terkait yang berwenang untuk mengambil tindakan tegas terhadap mereka yang telah melakukan pelanggaran.

 

Hal senada dikatakan Joshua, salah satu murid lainnya. Menurutnya, aksi teatrikal ini hanya untuk mengenang sekolah mereka. “Ini kenangan pahit buat kami yang telah dibohongi pihak JCIS. Makanya untuk kenang-kenangan kami menggelar aksi ini,” ujarnya.

 

Rizal Panggabean, salah satu orangtua murid bersama orangtua murid lainnya, hanya memandangi dari belakang aksi anak-anak mereka. Sesekali senyum pahit pun muncul dari bibir lelaki yang mengenakan kemeja kotak-kotak dan berwarna merah biru itu.

 

“Sebagai orangtua tentu saya sangat kecewa. Apalagi lima anak saya sekolah di JCIS ini. Kondisi ini jelas merupakan bentuk pembusukan dunia pendidikan,” ujar Rizal kepada beritajakarta.com.

 

Untuk itu, Rizal meminta agar pengelola JCIS ini diberikan sanksi tegas. Setidaknya, petinggi-petinggi JCIS yang bersalah harus segera dijebloskan ke penjara. Menurutnya, pengelola JCIS itu telah melakukan penipuan dan penggelapan dana sekolah, kemudian JCIS juga diduga melakukan pelanggaran UU Perlindungan Konsumen dan UU Sistem Pendidikan Nasional.

 

“Yang membuat dia tak habis pikir adalah sosok Wardiman Djojonegoro, Komisaris Utama JCIS. Padahal, dia kan mantan Menteri Pendidikan Nasional RI kok tega-teganya telah memberikan contoh yang tidak baik bagi dunia pendidikan. Orang seperti dia harusnya juga diberikan sanksi hukum yang setimpal,” imbuh Rizal.

 

Selain itu, orangtua murid juga meminta agar uang yang telah mereka bayarkan ke JCIS itu segera dikembalikan. Mereka pun telah menunjuk Iran Syahril Siregar, sebagai kuasa hukum orangtua murid JCIS untuk mengurus persoalan yang mereka hadapi.

 

Sementara, Zaenal Soleman, Kasudin Pendidikan Dasar (Dikdas) Jakarta Timur, mengatakan penipuan tersebut tidak hanya kepada para siswa saja, melainkan juga kepada Sudin Pendidikan Dasar Jakarta Timur. Pasalnya, semua persyaratan administrasi yang disodorkan itu ternyata tidak semua terjamin benar.

 

“Kami juga ikut tertipu oleh JCIS. Ini pengalaman pahit yang tidak boleh terulang kembali. Kami akan perketat perijinan pendirian lembaga pendidikan,” jelasnya.

 

Zaenal menuturkan, bagi para siswa yang tidak ingin dipindahkan di St Peter´s Internasional, dapat bersekolah di SD negeri reguler. “Kami tawarkan agar masuk ke sekolah reguler secara gratis. Ini bentuk perhatian kami pada mereka, kalau mereka mau silakan hubungi kami. Dengan catatan, mereka tidak pilih-pilih sekolah, semua kami yang tentukan,” ujar Zaenal.

 

Penulis: NURITO

Sumber: nurito