Sekolah Ditutup

Orangtua Murid Tuntut Uang Dikembalikan

Jumat, 11 Juli 2008 | 01:34 WIB

 

Jakarta, Kompas – Orangtua murid John Calvin International School, Kayu Putih Raya 1, Pulomas, Jakarta Timur, menuntut uang pendidikan putra-putri mereka yang telah diserahkan sekitar Rp 700 juta dikembalikan. Ke-13 orangtua murid mengadukan kasus ini sebagai kasus penipuan ke Polda Metro Jaya, Kamis (10/7) siang.

 

Menanggapi permintaan tersebut, juru bicara sekolah JCIS, Andre Legoh, mengatakan, pihaknya bersedia mengembalikan dengan syarat, pemilik gedung, Korean World Centre Indonesia (KWCI), mau mengembalikan sisa uang sewa gedung kepada JCIS sebesar Rp 2,5 miliar.

 

JCIS ditutup awal Juni lalu. Pengelola lalu memindahkan 108 muridnya ke St Peter’s International School, Boulevard Timur, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sebagian orangtua murid ragu, sebagian menerima, dan sebagian menolak pemindahan itu.

 

Orangtua murid Rizal dan Sahat Panggabean serta You Hye Seung, pengusaha warga negara Korea, yang mewakili 13 orangtua murid lainnya, menjelaskan, tuntutan mereka akan disusul puluhan orangtua murid lainnya.

 

”Saya sudah menyerahkan uang 4.000 dollar AS (Rp 36 juta lebih) untuk biaya pendidikan sekolah dasar kedua putra saya. Saya minta pengelola sekolah mengembalikan uang pendidikan anak saya,” kata You Hye Seung tegas.

 

Menanggapi tuntutan pengembalian uang pendidikan ke-13 orangtua siswa itu, Andre Legoh yang dihubungi terpisah mengatakan, pihaknya memutuskan menutup JCIS karena setelah satu setengah tahun beroperasi, gedung yang disewa JCIS belum juga mendapat listrik sesuai janji KWCI. Selama periode tersebut, JCIS menggunakan genset untuk mendapatkan listrik dengan biaya lebih mahal.

 

Dengan ditutupnya JCIS, lanjut Andre, pihaknya bisa membatalkan rencana sewa gedung periode 2009. Menurut Andre, JCIS menetapkan uang pangkal 2.500 dollar AS dan uang sekolah setiap bulan 200 dollar AS untuk siswa baru SD.

 

Untuk siswa baru SMP sebesar 3.500 dollar AS dan uang sekolah bulanan 250 dollar AS. Kasus JCIS mengemuka akhir Mei lalu setelah 18 guru JCSI tidak menerima gaji selama dua bulan.

 

Para guru kemudian mengambil gaji mereka dari uang sekolah murid yang menunggak. Akibatnya, siswa tersebut tidak bisa mengambil rapor. Sempat terjadi insiden, tetapi setelah guru dan orangtua murid menyadari mereka cuma korban, mereka berdamai. Pemilik saham JCIS Wardiman Djojonegoro sebelumnya mengaku JCSI terbelit masalah keuangan. (WIN)