Bangkrutnya Sekolah Kami

Koran Tempo, Sabtu, 12 Juli 2008

Gadis lima belas tahun itu terlihat canggung saat mengajar “anak muridnya”. Kadang dia tersipu-sipu sendiri karena salah mengucapkan kata. Inilah pertama kali gadis itu berperan sebagai guru. Apalagi yang diajar adalah teman-temannya sendiri.

 

Nama gadis itu Dara Nur Rizki Panggabean. Dia duduk di kelas sebelas John Calvin International School (JICS), yang beralamat di Jalan Kayu Putih Raya Nomor 1, Pulomas, Jakarta Timur. Sekolah yang baru berdiri setahun lalu itu ditutup oleh pengelolanya terhitung Juni 2008.

 

Aksi Dara dan kawan-kawannya itu untuk memprotes penutupan sekolah yang dilakukan pengelola. Mereka menggelar unjuk rasa di depan gedung bekas JICS dengan menggelar pertunjukan belajar-mengajar.

 

“JICS telah melakukan pembusukan pendidikan,” kata Daryoko dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jakarta. LPA dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPIA) mendukung aksi protes itu. Bahkan kedua institusi ini telah mengirim surat protes ke Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo kemarin.

 

Menurut Sahat Panggabean, orang tua Dara, aksi itu dilakukan untuk menunjukkan kepada pengelola sekolah bahwa anak-anak juga punya hak atas sekolah itu. “Pengelola tidak bisa seenaknya menutup dan memindahkan anak-anak kami,” katanya.

 

Biaya yang dikeluarkan untuk bersekolah di JICS tidaklah kecil. Mereka harus membayar uang pangkal sebesar US$ 3.500 saat mendaftar. Itu belum termasuk uang iuran per bulan sebesar US$ 350. Orang tua berharap anak-anak mereka mendapat pendidik yang berkualitas.

 

Sayang, harapan itu tidak terpenuhi. “Belum terlihat hasilnya, sekolahnya justru bubar,” kata Sahat. Karena merasa tertipu, orang tua siswa akhirnya mengadukan kasus ini ke Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya.

 

Juru bicara JCIS, Andre Legoh, mengatakan tidak sedikit pun mereka berniat menipu. Penutupan sekolah dilakukan karena pemilik gedung tidak memberikan dukungan yang memadai. “Selama satu setengah tahun kami tidak dipasok listrik. Kami pakai genset sehingga biaya membengkak,” katanya.

 

Alasan itulah yang membuat pengelola memutuskan tidak melanjutkan sewa. Sambil mencari gedung baru, pengelola menyarankan agar para siswa pindah ke Saint Peter Internasional, Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang lokasinya tidak jauh dari JCIS.

 

Tidak semua orang tua siswa menerima tawaran itu. Sahat contohnya. Alasan penolakannya sangat jelas. Tahun lalu dia memindahkan anaknya dari Saint Peter ke JISC. “Saya menilai manajemen sekolah Saint Peter amburadul. Makanya saya pindahkan mereka ke John Calvin,” kata dia. “Ternyata, saya mengeluarkan mereka dari kandang macan dan masuk ke kandang singa.”

 

Akbar Tri Kurniawan | Sofian | Eka Utami