John Calvin International Tak Berizin

Kamis, 10 Juli 2008 | 00:23 WIB

 

TEMPO Interaktif, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional menyatakan John Calvin International School (JCIS) di Jalan Kayu Putih Raya 1, akarta Timur, tak berizin. “Saya tak pernah menandatangani ijin operasi sekolah tersebut,” kata Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Suyanto kemarin kepada Tempo di kantornya.

 

Ia menerangkan, ijin operasi sekolah internasional di tangan pemerintah pusat dan diperbarui setiap tahun. Syaratnya, sekolah harus melengkapi syarat seperti ketersediaan gedung, kurikulum, dan tenaga pengajar. Suyanto meminta masyarakat hati-hati memilih sekolah, apalagi yang mencantumkan “internasional” di belakang namanya.

 

Para orangtua sebaiknya meminta pertanggungjawaban pengelola JCIS dan segera memindahkan anaknya ke sekolah lain. “Pemerintah pusat tak bisa menindak (JCIS) karena mereka tak pernah minta ijin.”

 

JCIS baru setahun berdiri, tapi mulai 6 Juni lalu 108 siswanya tak bisa sekolah di sana karena sekolah tutup. “JICS nonaktif sampai waktu yang belum ditentukan,” kata Koordinator Forum Komunikasi Orang Tua Murid John Calvin, Rizal Panggabean. Lima anaknya sekolah di JCIS, masing-masing di Kelas 6, 7, 8, dan dua lainnya di Kelas 11.

 

JCIS tak pernah menanggapi somasi para orangtua murid sehingga mereka merasa tertipu. Rizal mengaku tertarik menyekolahkan anaknya di JCIS karena bekas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro menjadi komisarisnya. Wardiman tak menolak atau membenarkan sebagai komisaris. “Nama saya diusulkan (sebagai komisaris) tapi belum disahkan,” katanya. (Koran Tempo, 9 Juli)

 

Direktur Utama JCIS Eko Nugroho membantah sekolahnya ilegal. Ia gelagapan ketika ditanya kapan izin terbit. Ia malah meminta Tempo menghubungi salah satu pemegang saham bernama Andre. “Biar informasinya tak simpang-siur.” Ia menolak memberi nomor kontak Andre dengan alasan Andre sedang di luar kota.

 

Namun, berdasarkan data Tempo tak ada pemegang saham bernama Andre. Eko lagi-lagi mengelak ketika ditanya soal lembaga pengelola JCIS. Ia mengaku tak tahu apakah pengelola berbentuk perusahaan atau yayasan. “Nanti saja tanya Pak Andre,” ujarnya.

 

Rizal menuturkan, JCIS menyarankan siswa dipindahkan ke Saint Peter Internasional di Kelapa Gading, Jakarta Utara, tanpa membayar uang pangkal. Tapi ia tak tertarik karena pengelolanya sama dengan JCIS. “Nggak bisa seenaknya, dong.” Menurut dia, para orangtua murid akan mengadukan dugaan penipuan ini ke Polda Metro Jaya hari ini. “Tak ada itikad baik dari pengelola,” ujarnya.

 

Jobpie S. | Reh Atemalem S. | Sofian | Akbar Tri Kurniawan | Suseno