JCIS Belum Punya Ijin Operasional

09-07-2008

 

http://www.beritajakarta.com – Tutupnya John Calvin International School (JCIS) mengagetkan semua pihak. Bagaimana tidak, ternyata sekolah bertaraf internasional itu belum memiliki ijin operasional dari Dinas Pendidikan Dasar (Dikdas) DKI Jakarta.

 

Hal itu dibenarkan Endang, Kasie Pendidikan Sekolah Dasar (PSD) Sudin Dikdas Jakarta Timur. Dia mengatakan, sebenarnya ijin operasional John Calvin International School belum dikeluarkan Dinas Dikdas. Kalaupun ada, baru ijin prinsip. “Bahkan ijin prinsipnya pun masih di Dinas dan kami belum mendapatkan laporannya,” ujar Endang, Rabu (9/7).

 

Tak hanya itu, kata Endang, John Calvin International School tidak memiliki gedung sendiri. Gedung yang ada saat ini merupakan hasil sewa dari pihak lain. Kabarnya gedung tersebut disewa untuk jangka waktu 20 tahun. “Karena sewa gedungnya 20 tahun, maka proses perijinannya kita proses,” kata Endang.

 

Namun dalam perjalanan, pihak sekolah menemui kendala. Dalam perjanjiannya, sewa gedung selama 20 tahun itu harus dibayar dalam empat termin dengan jangka waktu dua tahun. Sementara pihak sekolah baru membayar dua termin dan belum melakukan pembayaran termin berikutnya. Sehingga terjadi perselisihan yang berujung pada dibatalkannya perjanjian sewa gedung tersebut.

 

Jhon Crsitop, staf Subdis PSD Dinas Dikdas ketika dikonfirmasi membenarkan bahwa ijin prinsip John Calvin International School sudah ada. Sayangnya ia tidak menyebutkan berapa nomor registrasi dan kapan dikeluarkannya ijin tersebut.

 

Kabar tutupnya sekolah bertaraf internasional itu nampaknya sangat mengejutkan Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI Jakarta, Sukesti Martono. Kepada beritajakarta.com, Sukesti mengatakan pihaknya langsung menginstruksikan Kasudin Dikdas Jakarta Timur, Zaenal Soleman, segera menindaklanjuti laporan ditutupnya sekolah tersebut.

 

“Saya langsung perintahkan Kasudin Dikdas Jakarta Timur untuk menindaklanjuti laporan itu, agar hasilnya segera dilaporkan ke Dinas Dikdas. Namun prinsipnya, kami ingin kegiatan belajar mengajar itu tidak terganggu,” ujar Sukesti. Sukesti juga meminta agar pihak sekolah segera melakukan klarifikasi ke Dinas Dikdas dan memberikan solusi bagi murid-murid di sekolah tersebut. “Apakah dipindahkan atau bagaimana, tolong carikan jalan keluarnya,” imbuhnya.

 

Zaenal Soleman yang dikonfirmasi beritajakarta.com mengatakan, karena itu persoalan internal mereka, pihaknya tidak bisa mengintervensi terlalu jauh.  Apalagi sekolah itu merupakan sekolah swasta.

 

Meski demikian, ia berjanji akan mengkaji ulang seluruh administrasi dokumen perijinan sekolah tersebut. Selanjutnya ia juga akan meminta pihak sekolah untuk mengamankan murid-muridnya, sehingga dapat melanjutkan KBM dengan tenang. Misalnya, murid sekolah tersebut disalurkan ke sekolah terdekat.

 

“Tapi jika sekolah itu negeri maka operasionalnya akan diambilalih oleh Sudin sehingga KBM tetap aman. Namun karena sekolah swasta, maka hendaknya pihak sekolah bermusyawarah dengan para orangtua murid agar ada solusi sesegera mungkin,” paparnya.

 

Sementara itu, Artha P. Sinamo, Kepala Sekolah John Calvin International School, hingga kini belum dapat dikonfirmasi.

 

Diketahui, John Calvin International School sudah dua bulan terakhir ini tidak beroperasi. Sekolah itu gulung tikar. Seluruh sarana dan prasana untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) pun diangkut entah ke mana. Dari pantauan beritajakarta.com, seluruh peralatan di sekolah yang terletak di Jalan Kayuputih Raya No 1 A, Pulogadung, Jakarta Timur, itu sejak dua hari lalu, diangkut menggunakan truk. Sekitar 10 orang sibuk memindahkan kursi dan meja dari dalam gedung sekolah ke atas truk.

 

Sayangnya ketika ditanya akan dibawa ke mana barang-barang tersebut, para petugas tadi enggan memberitahu. “Saya tidak tahu mau dibawa ke mana,” katanya seraya menghindari wartawan. Bahkan beberapa satpam setempat, dengan wajah tidak ramah langsung mernghardik wartawan yang mencoba meliputnya. Informasinya, sekolah tersebut pindah ke kawasan Bumi Serpong Damai, Tangerang.

 

Penulis: NURITO

Sumber: nurito