John Calvin International School Tutup

Rabu, 09 Juli 2008 | 00:14 WIB

 

TEMPO Interaktif, Jakarta: Baru setahun beroperasi, sekolah internasional John Calvin International School (JCIS) di Jalan Kayu Putih, Pulomas, Jakarta Timur, tutup. Forum Komunikasi Orangtua Murid akan menggugat pengelola karena merasa ditipu.

 

“Kami akan lapor ke Polda Metro Jaya karena penipuan dan melanggar Undang-Undang Pelayanan Konsumen,” kata salah satu orangtua murid, Rizal Panggabean, di Jakarta kemarin. “Sekolah ini komisarisnya bekas Menteri Pendidikan Wardiman Djojonegoro. Tapi yang terjadi adalah pembusukan pendidikan.”

 

Warga Jalan Waru RT 2/RW 9 Nomor 20, Rawamangun, Jakarta Timur ini menjelaskan, Forum Komunikasi Orang Tua Murid sudah tiga kali mengajukan surat permohonan bertemu dengan pengelola. Tapi, tiada tanggapan. Bahkan surat somasi atau teguran sudah dua kali diajukan. Terakhir, Kamis pekan lalu. “Eko Nugroho (Direktur Utama JCIS),” katanya.

 

Ketika Tempo mengunjungi JCIS, beberapa pekerja sedang sibuk membongkar isi sekolah. Mereka membawa pergi sejumlah unit komputer, penyejuk udara, dan sound system. Penggelola JCIS menolak berkomentar. “Saya no comment dulu,” kata Direktur Utama JCIS Eko Nugroho kepada Tempo.

 

Wardiman tak menolak atau membenarkan sebagai komisaris. “Nama saya diusulkan (sebagai komisaris) tapi belum disahkan,” ucapnya kepada Tempo.

 

Menurut Rizal, pemberitahuan nonaktif sementara diterima orangtua murid pada menerima laporan hasil pendidikan (rapor) pada akhir Mei lalu. Total ada 108 anak yang bersekolah di sana. Tapi, Dara Nurizki, siswi Kelas 11, mengatakan tak ada pemberitahuan resmi penutupan sekolah. “Kegiatan belajar berjalan normal sebelum penutupan,” ucap Dara. Ia memiliki lima anak yang bersekolah di JCIS. Tahun lalu, Rizal memindahkan mereka dari Tiara Bangsa. Anak-anaknya duduk di Kelas 6,7,8, dan dua anak di Kelas 11. Masing-masing anak menghabiskan US$ 2.500 untuk uang pangkal dan US$ 300 uang sekolah per bulan. “Total saya sudah habis Rp 242 juta dalam setahun untuk biaya sekolah,” ujarnya.

 

Supandi, orangtua murid lainnya, memiliki dua anak di kelas 11. “Mereka saya pindahkan dari Singapura tahun lalu,” ujarnya.


Sofian | Nur Rochmi