Sekolah Mantan Menteri Bangkrut

http://www.wartakota.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=4516&Itemid=73

 

Sabtu, 31 Mei 2008 | 08:17 WIB

JAKARTA, SABTU – Belasan guru John Calvin School (JCS) Internasional merana nasibnya. Sudah dua bulan ini mereka tidak menerima gaji berikut bonus tunjangan hari raya (THR) tahun lalu. Para orangtua murid JCS juga uring-uringan karena JCS kabarnya akan tutup lantaran bangkrut. Sebagian besar orangtua murid yang sudah membayar uang pangkal sekolah penuh, memilih tidak membayar uang sumbangan penyelenggaraan pendidikan (SPP). Sebaliknya para guru yang tidak menerima gaji akhirnya berinisiatif meminta kepada orangtua murid yang menunggak bayaran bulanan untuk segera melunasinya.
 
“Ada 18 guru SD dan SMP yang belum dibayar gajinya. Kami sudah berupaya menemui kelima pemilik saham agar nasib kami tidak terlunta-lunta seperti ini. Tapi, kenyataannya mereka tidak bisa ditemui dan terkesan lari dari tanggung jawab,” tandas Ibnu, salah satu guru, yang ditemui Jumat (30/5) pagi.
 
Para guru akhirnya bersepakat mengambil gaji mereka dari uang SPP murid yang menunggak. Imbasnya, dalam pengambilan raport kenaikan kelas, para guru meminta ketulusan kepada orangtua murid untuk membayar tunggakan uang SPP.
 
Ada beberapa raport yang ditahan karena belum melunasi SPP. Kondisi ini menyebabkan kericuhan antara orangtua murid dan guru. Tapi, insiden itu tak berapa lama, sebab para guru dan orangtua murid jadi mengerti mereka bernasib sama. Mereka sama-sama menjadi korban kegagalan JCS Internasional dalam mengelola sekolah itu.
 
“Kami orangtua murid jelas kecewa sekali. Bayangkan saja Mas, kami sudah membayar uang pangkal penuh di JCS ini. Tapi, gara-gara urusan di atas kami yang dikorbankan. Sebagian sih setuju anaknya dipindah ke Sanit Peter di Kelapagading, tapi sebagian lagi menolak,” ucap salah satu orangtua murid.
 
Uang pangkal untuk murid SD JCS 2.500 dolar AS atau sekitar Rp 23,25 juta, sedangkan uang pangkal siswa SMP JCS 3.500 dolar AS atau sekitar Rp 32,55 juta. Uang SPP per bulan untuk murid SD JCS 200 dolar dan SMP 250 dolar.
 
Wardiman Djojonegoro, mantan Menteri Pendidikan Nasional yang juga salah satu pemilik saham di JCS Internasional, yang dihubungi via telepon, Jumat (30/5) malam, mengakui bahwa JCS Internasional sedang tersandung masalah terkait pembayaran sewa gedung sekolah.
 
Dikatakan Wardiman, sudah tiga atau empat bulan ini pihak JCS Internasional kesulitan pendanaan. Akibatnya, pihak sekolah belum sanggup membayar uang sewa gedung yang nilainya sangat besar. Beberapa investor baru juga menolak menanamkan sahamnya. Di satu sisi Korean Town, pemilik gedung JCS Internasional, tidak bisa memberi kelonggaran waktu pembayaran sebab mereka juga dikejar utang bank.
 
“Saya pribadi memang salah satu pemilik saham, cuma tidak terlalu ikut campur. Tapi, yang pasti para pemilik saham sudah menjelaskan kondisi itu ke guru dan orangtua murid. Jadi dalam hal ini tidak ada yang salah. Ibarat bus mau ke Bandung, di tengah perjalanan berhenti mogok. Penumpang kecewa ya wajar, tapi pihak bus kan sudah memberi penjelasan,” tutur Wardiman.
 
Jika pihak Korean Town tidak mau memberikan waktu luang untuk pembayaran sewa gedung, maka langkah yang diambil yaitu menjual aset yang ada di dalam gedung. Hasil penjualan aset tersebut akan digunakan untuk melunasi gaji belasan guru yang tertunda selama dua bulan dan lain-lainnya.
 
Berdasarkan informasi yang diterima, dalam perjanjian awal, pihak JCS Internasional menyewa gedung kepada Korean Town selama 20 tahun. Namun, baru satu tahun ajaran sekolah (sejak Juli 2007 sampai Juli 2008) ini pihak JCS tidak sanggup lagi melunasi pembayaran uang sewa gedung.(DED)