JCS NUNGGAK SEWA GEDUNG

Written by Herman Tjahja

Wednesday, 04 June 2008

 

Pulomas, Warta Kota. Meski perjanjian sewa masih berjalan, pihak John Calvin School (JCS) Internasional belum melunasi pembayaran sewa gedung sekolah kepada PT Korea World Center Indonesia, pengembang Korean Town. Para orangtua murid juga mengeluh sebab pihak JCS belum memberikan kepastian apakah JCS tetap di lokasi sekarang atau pindah ke tempat lain. “Saya lagi kejar (maksudnya pembayaran sewa ke JCS–Red). Tapi, sampai saat ini belum ada jawaban. Kami pasti akan memberi batas waktu pelunasan,” ucap Gi Man Song, Presiden Direktur PT Korea World Center Indonesia, yang ditemui Warta Kota Rabu (4/6) siang.

 

Pihak Korean Town kecewa karena JCS ternyata tidak mampu mengelola manajemen sekolah sehingga tidak mampu melunasi pembayaran sewa gedung.

 

Dikatakan Gi Man Song, pihak JCS menyewa gedung blok Violet Korean Town seluas 8.185.23 m2. Harga sewa per bulan Rp 27.000/m2. Sewa itu terbilang murah jika dibandingkan dengan sewa ruko seperti di Kelapagading, Jakarta Utara, yang mencapai Rp 80.000/m2/bulan. Perjanjian sewa gedung sekolah ini dibuat dua kali, sebab perjanjian yang pertama dirasakan oleh JCS terlalu berat.

 

“Perjanjian kedua disepakati, dimaterai, dan ditandatangani oleh pihak JCS. Saksi pertama Eko Nugroho Tjahjadi dan saksi kedua Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro. Di awal perjanjian terlihat ada itikad baik. Awalnya mereka booking dulu baru cari investor dan cari murid. Ternyata mereka tidak punya duit dan tidak punya murid. Jumlah muridnya saja cuma 110 anak,” tandas Gi Man Song.

 

Menurut Gi Man Song, jika Wardiman Djojonegoro, mantan Menteri Pendidikan dan kebudayaan yang juga salah satu pemilik saham JCS, mengatakan sewa gedung Korean Town sangat mahal, itu jelas keliru. Sebaliknya pihak Korean Town melihat pihak JCS terlalu berani mengambil keputusan menyewa gedung sekolah seluas 8.185.23 m2 itu.

 

Pihak Korean Town juga sudah memberikan kelonggaran kepada pihak JCS soal pembayaran sewa gedung. “Jadi kalau Pak Wardiman mengatakan Korean Town tidak memberikan kelonggaran karena dikejar utang bank, itu tidak benar. Utang yang mana, saya tidak pernah pinjam uang ke bank,” tandasnya.

 

Rizal, orangtua murid, mengatakan, pihak sekolah salah manajemen. Sekolah tidak bertanggung jawab dan tidak punya itikad baik sehingga murid-murid ditelantarkan. “Bohong besar kalau pihak sekolah sudah menjelaskan kepada guru dan orangtua murid. Sampai saat ini saya belum mendapatkan kepastian apakah anak-anak saya masih bisa sekolah di gedung ini atau dipindah,” ujar Rizal.

 

Dikatakan Rizal, para orangtua murid sejak awal masuk menagih pihak sekolah untuk memperlihatkan perzjinan sekolah. Namun permintaan orangtua murid tidak pernah diindahkan. “Kami akan membawa masalah ini ke jalur hukum. Kekawatiran kami ijazah yang dikeluarkan sekolah ini ijazah palsu,” katanya.

 

Para pemilik saham JCS seperti Wardiman dan Eko Nugroho Tjahjadi tidak bisa dikonfirmasi. Eko Nugroho sempat bisa dihubungi namun langsung diputus. Sedangkan ponsel Wardiman selalu bernada mailboks. Tapi, sebelumnya Wardiman mengakui bahwa JCS sudah tiga atau empat bulan ini kesulitan pendanaan (Warta Kota, 31/6).

 

Sementara itu, belasan guru JCS Internasional yang belum menerima gaji dua bulan kini sudah bisa tersenyum. Pasalnya, pihak JCS berjanji akan membayar gaji mereka. “Jadi bukan tidak dibayar, tapi yang benar gaji kami belum dibayar. Tapi, urusan ini selesai sebab pihak sekolah berjanji akan membayar,” ucap Ibnu, guru JCS. (ded)